semua masalah timing:

Hari ini gue merasakan kembali how God works his plans in a mysterious way.

Pagi gue yang dimulai dengan curhat pada Bila tentang betapa muaknya gue dengan keadaan dan kehidupan gue sekarang. Perasaan ingin keluar dari zona nyaman gue yang semakin gerah. Kegalauan karena suatu sms di pagi hari (stop replying. you really should)..

Lalu mendadak semua membaik dengan ajaibnya.

Wawancara (perdana!) dengan 8 orang maba, percakapan di kanlam bersama Dhea dan Sharah, sampai yang paling membuat gue benar-benar melupakan semua energi negatif dalam diri gue:

Kumpul angkatan dan ichiban sushi dengan Tegar, Catja, Sharah, Patsy, Nia, Ayy dan Fika.

Terimakasih yaaa untuk ketawa sampai mati di Akademos (yell angkatan!) dan Parkiran Margo City :)

Love is all about timing. And today, His timing makes me realize how much I love you guys. I really think that God loves you all the time, it’s just that sometimes He show it in a funny way.

Ps. Terimakasih juga Adit untuk kesediaannya membalas bbm curhat gue yang mendayu-dayu.

*
When you are commited to just take it one day at a time, then you really should.
Because maybe today, that’s the only thing that will help you.

Advertisements

Leave a comment

Filed under kalau lagi senang

pembicaraan malam hari

Dalam suatu conference di Yahoo Messenger:

Participants:
————-
smitaprathita, rafika.ariani, putrirezkya

Messages:
——–

rafika.ariani: mampus aja gue
rafika.ariani: bulu kaki lg lebat
rafika.ariani: bisa ngiket org

smitaprathita: Taiiii bisa ngiket orang!!!


putrirezkya: anak sombong disanyang tuhan
putrirezkya: tugas apaan fiik?

smitaprathita: anak sombong disanyang tuhan?
smitaprathita: anak sombong diganyang tuhan, iya


rafika.ariani: jomblo itu tdk dosa smit

smitaprathita: Iyaaaaaa
smitaprathita: Emaaanggg
smitaprathita: Kalo jomblo itu dosa, neraka penuh!

*
Yak. Sekian. Selamat malam :)
Thank you fika & jejen, you guys made my night!

Leave a comment

Filed under kalau lagi senang

pembicaraan siang hari

Di kelas Psikometri yang berlangsung 4 jam.

Dosen: jadi skor Susi berada dalam rentang antara true score plus minus… Blablabla
Jejen: Susi siapa sihh???
Gue: sumpah ya Susi itu bukan inti permasalahan kita…

Moral of the story: psikomet lebih bikin tripping daripada extacy.

Leave a comment

Filed under kalau lagi senang

“so sad” by The Banery

Akhirnya malam ini gue kembali ditemani oleh sekotak rokok, game laptop dan lagu-lagu depresi. Just like the old days.

Gue tahu pada akhirnya ruang ini kembali jadi tempat pelarian gue saat dunia gue serasa jungkir balik. Saat dunia gue rasanya kembali kayak lagi naik Tornado, keputer semua, kepala di kaki, kaki di pantat.

“Mencintaimu adalah suatu keindahan yang tak pernah terwujud…”

Malam ini gue menemukan analogi hidup gue akhir-akhir ini dalam lagu-lagu The Banery. Lirik patah hati, melodi riang hati.

Gue akui dua bulan terakhir, I wasn’t fine. Well I am not even up until now. But I tried to laugh about it, no matter how fake. Lelah, selalu gue katakan itu. Gue juga udah capek untuk terus-terusan mengeluh bahwa gue lelah gue lelah.

Yang akhirnya gue sadari dan mau akui adalah gue lelah berada dalam kecemasan bahwa orang akan mengasihani gue. Cukup gue yang mengasihani diri gue sendiri. Gue tidak perlu orang lain untuk itu.

Malam ini, sejujurnya gue takut untuk bangun besok pagi. Bukan masalah kelas psikometri 4 jam, bukan masalah itu. Terserah mau kasih gue berapapun lamanya waktu kuliah, I don’t give a shit. It kinda helps in a way.

Gue takut besok gue kembali harus berpura-pura. Gue takut besok gue harus kembali duduk bengong di kelas, mencoba konsentrasi, padahal nafas gue berat. Tersengal.

Fisik gue cukup kuat, gue tau. Sangat jarang akhirnya gue menyerah pada keadaan dan tepar tewas sakit dirumah. But deep inside, I wish I was physically weaker. Jadi at least apa yang mengganggu selama ini akhirnya menjadi suatu yang riil, konkrit. Saat semua mengawang, justru gue lebih takut. Gue takut akhirnya gue overload dan sakit secara psikis. Haha berlebihan emang. But we have the allowance to be paranoid once in a while, right?

“Kan kutulis semua kisah cinta sebelum semuanya berubah, menjadi suatu hampa belaka…”

Gue gak pengen masuk ke detail cerita ada apa dan kenapa. Yang gue tau, ini sesak. Terlalu sesak sampai gue tidak bisa berfungsi normal.

Masih seperti yang dulu-dulu, gue masih mengulang skenario yang sama. Masih dengan pergumulan gue dengan segala hal kecil yang mengingatkan gue pada jutaan hal. Masih dengan perjuangan gue berdamai dengan kenyataan, dan yang lebih penting, dengan diri gue sendiri.

Kecewa. Hanya itu yang gue rasa. Bahkan gue sendiri tidak bisa mengelaborasikan kecewa pada apa. Ada diskrepansi dalam diri gue. Gue tahu semua akan berakhir seperti ini, trust me, I really do. Tapi apakah itu berarti semuanya lebih ringan? Lebih terduga, iya. Tapi lebih ringan? Beda urusan itu.

Akhirnya tadi sore kembali Sadi yang ada disebelah gue. Mendengarkan, dan gue yakin, dia mengerti. Gue berterimakasih banyak sama dia, untuk tidak mengasihani gue, untuk mendengarkan tanpa judgement atau prejudis, untuk membiarkan gue mendengarkan kalimat-kalimat singkatnya yang menenangkan.

Gue sudah tidak lagi butuh penguatan yang sudah sering gue dengar, berkali-kali. Gue sudah tidak butuh kata-kata standar bersalut gula. Empty calories. Gue hanya perlu untuk dimengerti. Gue sudah tidak butuh kata-kata, titik.

Gue perlu untuk lupa. Dan lupa butuh waktu. Yes, time doesn’t heal, it just simply makes you forget what hurts. Or how it hurts so bad.

Gue tidak benci, sumpah demi Allah, gue tidak benci. Gue tidak mau hidup dalam kebencian. Tapi gue sedih, iya. Gue sakit, iya.

Gue tahu banyak yang sudah bisa gue terima, maafkan, bahkan gue terima. Bahkan gue sudah bisa bilang pada diri gue kata-kata bangsat itu: ini yang terbaik. Tapi bohong kalau gue bilang gue sudah kembali menjadi baik-baik saja.

Maaf ya, gue kembali ke titik nol. Gue juga kecewa sama diri gue sendiri. Gue harusnya bisa menerima bahwa this isn’t mine to keep. This isn’t my time to be happy. Gue harusnya bisa menerima bahwa gue masih dalam antrian, gue masih memegang nomor yang belum tertulis di layar. This isn’t my turn.

Berbesar hati itu sulit. Bosan kan mendengar cerita yang itu-itu saja? Gue juga. If life is recorded on a DVD, it would be easier, because we can skip chapters dan paused on the moments we loved the most.

But then again, we aren’t meant to live it easy, are we?

Maafkan gue. Maafkan untuk setiap helaan nafas yang berat, untuk setiap momen gue tersenyum palsu, untuk tatapan yang gue hindari.

Gue belum bisa.

*
How I wish my brain works like a computer. Press F1 and you’ll get a step by step instruction of how to deal with your problems.

I don’t need encouragement, I need someone to show me the way.

6 Comments

Filed under kalau lagi curhat

pembicaraan sore hari

Di sebuah angkot Depok-Taman Mini.

Sadi: lo tuh berkualitas, smit!
Gue: Apa? Gue bukan wanita??

Moral of the story: jangan sok-sok ngobrol di angkot yg lagi ngebut dengan jendela terbuka lebar.

But anyway, thank you Sadi! You made my day today! (Again.)

Leave a comment

Filed under kalau lagi senang

fireworks love.

Well it turned out that it wasn’t so bad, afterall.

It doesn’t really hurt. Maybe it would, maybe it won’t.

But all I know now is that,
My hands are not shaking.

So, fingers crossed, I will be just fine.

Leave a comment

Filed under kalau lagi mikir

“hati panas dalam”

Intinya:
Ga boleh takut menghadapi kenyataan.

Gue sejujurnya capek dengan kejadian yang etrus keulang dengan skenario yang sama. Lagi dan lagi. Lelah. Capek. Muak juga mungkin.

Apa iya pembelajaran gue belum selesai? Apa iya sampe harus keulang dua kali? Tiga kali?

Mungkin iya. Soalnya kejadian.

Senyum gue makin lama makin kepaksa. Hahaha tahi. Miris mulu. Gak baik banget.

Selalu seperti ini.

Tapi apapun yang harus terjadi, emang harus kejadian. Menjadi dewasa sulit banget ternyata. Introspeksi itu susah. Lebih sulit lagi harus terus mencari cara lain untuk bisa bertahan.

Gue sumpah gue muak dengan entry-entry kayak gini. Emosional, sedih, tahik. Gue ingin seneng-seneng. Gue ingin semua-semuanya ketawa-ketawa. Tapi entah kenapa emang selalu kata mengalir hanya pas situasi kayak gini.

Maaf ya, gue belum sukses memanajemen emosi gue.

*kontemplasi di kuburan. Hahaha gak baik juga ya kegiatan dini hari ini.

Leave a comment

Filed under kalau lagi curhat