Category Archives: kalau lagi susah

saat akhirnya bosan dengan kejenuhan.

Akhir-akhir ini kepala gue rasanya muteeeerr muter kemana-mana. Mungkin inti permasalahannya adalah titik jenuh gue mulai tercapai. Udah hampir 3 tahun gue menjalani hidup yang bisa dibilang stagnan. Sama seperti kecapekan gue mengeluh bahwa gue lelah, sekarang gue bosan mengeluh bahwa gue jenuh. Tapi apa daya? Emang gue JENUH.

Parah parah parah. Jenuh jenuh jenuh.

Kira-kira setahun ini gue mulai merasa geraaah dengan kehidupan gue yang nggak kemana-mana ini. Masalah dengan comfort zone selalu: bikin gak pengen keluar. Gue inget apa kata Pane waktu gue ngobrol-ngobrol di malam dapur itu:

“Susahnya dengan comfort zone itu adalah elo kayak kodok yang dimasukin ke air hangat yang kemudian dipanasin pelan-pelan. Kalo langsung panas, dia pasti langsung loncat keluar. Tapi kalo dipanasin pelan-pelan, kodok itu akan merasa nyaman, menyesuaikan suhu tubuhnya dengan panasnya air, dan tanpa sadar tau-tau dia udah mati kerebus.”

Aduh, jangan-jangan gue lagi kerebus hidup-hidup!

Gue gak tau juga kenapa akhir-akhir ini perumpamaan yang gue pakai hampir berputar di kisaran ke-kodok/katak-an (I know, kodok dan katak are two different types of the same gross animals). Baru tadi pagi gue beneran merasa kayak gue akhirnya kembali lagi jadi katak dalam tempurung.

Sepertinya gue terlalu banyak berkutat dalam lingkup kecil kehidupan gue sampai-sampai I am missing out on what happen outside my pathetic little world.

Hampir setiap hari gue kebangun dengan pikiran yang sama: I need to get out. I need to get out! Tapi lagi-lagi bukannya gue berusaha membuat perubahan yang signifikan, gue malah memaksa diri untuk sibuk dalam hal-hal yang superficial, drama-drama kehidupan yang mungkin gue karang-karang sendiri, kegiatan-kegiatan yang terasa mendesak padahal tidak penting. Lalu malam harinya gue tertidur dengan false sense of complacency yang bilang: I’ve done something today.

But have I?

Pertanyaan itu keluar karena nggak mungkin gue sudah melakukan sesuatu yang (benar-benar) berarti kalau besoknya gue kembali terbangun dengan perasaan yang sama: bosan dan harus keluar sesegera mungkin dari kehidupan yang begini-begini aja.

Kenapa juga isi blog gue begini-begini aja, tiap kali mengeluhkan hal yang sama, ya lagi-lagi karna gue belum mendapatkan pemecahannya.

Dulu kayaknya ada orang bilang sama gue: when you detach yourself from your problems, put yourself outside the circle and look at it more objectively, just then maybe you’ll find enlightment dan finally able to solve them.

Selama ini kayaknya gue hanya mencari distraksi supaya gue tidak terlalu ingat atau sadar sama kejenuhan gue. Tapi distraksi tidak selalu mempan menghalau perasaan jenuh, nggak selalu bisa menyelesaikan masalah.

Kayaknya emang ini udah kronis banget kali ya. 3 years of being stuck. Gila. Gilaaaa! Iyah, mungkin bentar lagi bisa beneran gila kali kalo gue memaksakan untuk bertahan. Memang mungkin saatnya gue melihat ke gambaran yang lebih besarnya, ketimbang memfokuskan diri ke printilan yang makan waktu dan energi tapi gak menghasilkan apa-apa.

Mungkin sederhananya adalah gue butuh pelarian, liburan, suasana baru atau sejenisnya. Karna gimanapun gue masih ‘dikontrak’ untuk menyelesaikan dua tahun (atau setahun setengah? AMIN!!) tanggung jawab gue di perkuliahan. Emang titik jenuh gue udah tercapai, tapi gak mungkin gue lari dari tanggung jawab yang satu ini. Jadi kemungkinannya gue emang cuma perlu untuk keluar sejenak.

Tadi malem, Adit menghujani gue dengan cerita-cerita mudiknya dia yang terasa aduhay parah di Solo. Ya cerita tentang angkringan, tentang ngobrol sampe pagi, tentang suasana yang asik. Dan gue rasanya mau meledak. Terhantui dengan kejenuhan gue yang makin menjadi.

It’s been awhile since my last fun holiday. Terakhir Jogja dan Bali trip diawal tahun. Lalu hidup gue kembali berkutat dengan pola yang sama yang gue jalani selama hampir 3 tahun ini. Betul-betul bikin sinting. Dan hari ini, keresahan, kejenuhan, kegerahan, dan semua-semuanya makin membuncah.

I no longer need to go out. I really need to get out of here.

Gue tahu banyak keterbatasan yang gue miliki untuk merealisasikan keinginan (atau sudah jadi kebutuhan?) gue ini. Mungkin ini saatnya gue beneran bikin perubahan di hidup gue: dengan mulai bikin rencana kehidupan!

Advertisements

Leave a comment

Filed under kalau lagi susah

capek…

Belakangan makin terasa gue semakin nggak tau harus apa dan bagaimana. Entah juga sebenernya masalahnya apa. Kayaknya banyak, tapi mungkin gue aja yang berlebihan. Kayaknya nggak ada, tapi kenapa suasana hati nggak mendukung?

Rasanya kayak ngambang, lagi-lagi. Agaknya banyak yang mengganjal, tapi pas mau diekspresiin, mendadak rasanya kayak nggak ada apa-apa. Susah.

Makin sibuk, malah makin merasa semua nggak ada gunanya. Semua cuma pura-pura terlihat baik-baik di luarnya. Bimbang juga, gue nggak pengen sendiri, tapi semakin rame malah gue semakin nggak pengen ada disitu.

Entah kenapa kali ini terlalu banyak yang akhirnya mengisi pikiran, tanpa bisa gue pilah-pilah: mana yang penting dan mana yang hanya gue membuat ribet diri sendiri. Capek juga, gue cengeng banget akhir-akhir ini dan rasanya sih, harusnya sekarang udah cukup. Ternyata gue masih tetap tidak dewasa yah.

Susah untuk percaya. Susah untuk bicara. Tapi susah juga ngebohong terus-terusan.

Semakin dipikir, sebetulnya semakin sederhana hal-hal yang terlintas. Tapi kenyataan yang paling sederhana itu ternyata yang paling membuat sesak.

Kadang rasanya segalanya ada dalam genggaman, gue punya semua. Lalu tiba-tiba… kosong. Rasanya kosong banget.

* I remember the good parts and the happy moments. Do you?

2 Comments

Filed under kalau lagi susah

syitmen.

aduuh. kenapa yak gue anaknya nggak bisa komitmen? bukaaan, bukan maksud komitmen yang itu, maksudnya dengan komitmen gue untuk tidak merokok, tidak lagi melakukan hal-hal yang merugikan diri gue sendiri. misalnya, nggak pulang ke rumah dan memutuskan untuk nongkrong di kampus (hasilnya: kurang tidur dan kecapekan).

ADDDDDDDDOOOOOHHH gue lagi kepengen curhat kepengen curhaaatttt

tahilah semua.

Leave a comment

Filed under kalau lagi susah

UTS itu berbahaya.

karena kemarin yang gue ingat keluar dari mulut gue adalah:

“GIMANA DONG GUE TER-CLASSICAL CONDITIONING SAMA AYAM GORENG KREMES!”

bukti konkret otak gue BLEDARRRS.

1 Comment

Filed under kalau lagi susah

Tulisan sehabis sahur on the road.

21/09/2008 5:28:13

Suatu perjalanan panjang malam ini yang penuh dengan musik-musik aduhay ala diskotik dangdut di mobil Anom membuat gue akhirnya jadi menyadari sesuatu (walaupun pemikiran ini sama sekali tidak datang dari musik-musik tersebut, TENTUNYA YA DONG YA)

*

Sebelumnya, mari kita bermain analogi.

Ibaratnya gue lagi mancing, lagi-lagi gue memancing di kolam yang salah.

Ibaratnya gue lagi nulis suatu esai, gue memilih judul dengan luarbiasa ngasal tentang topik yang tidak gue kuasai sama sekali dan gue berusaha memaksakan suatu isi yang cetek dan ngelantur dengan judul itu.

Ibaratnya gue lagi laper, gue malah mencari mie instan yang nggak sehat sama sekali dibanding sabar sebentar buat nyari nasi dan lauk pauk empat sehat lima sempurna.

Intinya, gue lagi-lagi salah. Salah milih. Salah menempatkan. Salah aja intinya.

*

Gue tahu nggak seharusnya ini jadi beban pikiran, tapi lagi-lagi gue sadari betapa gue sering terjebak dalam sugesti gue yang sesungguhnya nggak perlu gue seriusin. Bego. Bego. Bego. Tuh, combo triple B buat gue. lagi-lagi.

Kadang gue sedih, kok gue kayak nggak pernah belajar? Kok gue nggak pernah masukin apa yang Nyokap gue bolak-balik kasih tau ke gue kedalam otak? Kok gue terus-terusan goblok begini?

Sesuatu hal membuat gue tidak ingin melepas, sesuatu hal membuat gue ingin bertahan. Tapi selalu ada yang bertanya dalam hati: ELO YAKIN? BUAT APA SIH? sekali lagi segalanya nggak kompak, semuanya jalan sendiri-sendiri. Satu ke arah kanan, satu lagi ke arah kiri. DODOL.

Gue nggak menyangka salah mempersepsikan sesuatu bisa segini fatalnya. Pengendalian gue terhadap diri gue ternyata masih NOL BESAR.

Apa sih yang gue mau? Apa gue cuma pengen pelarian? Apa gue cuma pengen iseng-iseng berhadiah? Apa gue cuma pengen suatu pembalasan dari semua yang udah susah-susah gue keluarin dari sistem gue? Apa gue cuma pengen pembuktian? ini makin nggak sehat aja makin hari.

Susah juga memfokuskan diri pada suatu tujuan kalo gue sendiri nggak yakin motif gue apa. Tapi gue merasa nggak ada lagi yang kepegang sama gue, semuanya lepas lepas lepas. Beterbangan nggak keruan, kesana-kemari. Dan gue? gue ketinggalan aja dibelakang, menggapai-gapai sesuatu yang udah nggak lagi di genggaman.

*

Gue merasa banget ada yang salah. Gue males ada di keadaan itu. Gue pengen KELUAR. Capek. Tapi mungkin zona nyaman gue sudah tergeser, dan memang tidak bisa sepenuhnya gue salahin ke faktor eksternal, gue sendiri punya andil.

Gue pengen yang DULU balik, tapi nggak mungkin kan ya. dimana-mana orang harus hidup di masa SEKARANG, bukannya masa lalu. Yang gue inginkan sebenernya adalah kesatuan, tapi kok agak naif ya untuk menginginkan itu. terlalu idealis. Susah, nggak mungkin aja. akan selalu ada yang merasa tertinggal, akan selalu ada yang merasa asing, akan selalu ada yang merasa diluar definisi. Tapi bukankah itu kenapa orang mempunyai sistem asosiasi? Semuanya akhirnya HARUS dikelompokkan, nggak bisa dijadikan suatu skema besar yang tidak berbatas dan semuanya termasuk didalamnya. Kita semua nggak punya cukup kemampuan untuk itu.

*

Berkorban. Males. Males banget. gue ternyata masih punya jutaan titik-titik egoisme dalam diri gue yang, sedihnya, mengakar. Kapan belajar untuk nggak egois? Harusnya sih sekarang udah mulai. ADUUUHHH.

*

when you said something, most of the time you just cant take it back. When something is done, most of the time you just cant get it undone. I said and done a lot, and I realised I regretted some of them, but in the end all I can do is just to suck it up and live with them. When stupidity became one of your traits, you’ll know its time to get back to square one. DAMN.

Learning can be so hard. Disorientation is a bitch.

Leave a comment

Filed under kalau lagi susah

Derita si Gadis Pencuci Mobil

Pada suatu hari Minggu, di sebuah rumah yang berada di daerah Cirendeu, seorang gadis imut cantik nan jelita bernama Sitihana menerima suatu sms yang mengawali penderitaan hidupnya selama seminggu ke belakang.

“Hey, inget ya, besok giliran lo carwash. Jangan lupa ya, jam 11. oke? Thanks, cantik!”

(sekedar catatan: kata berawalan huruf C dibelakang sms tersebut memang benar-benar dicantumkan. Gue tidak mengada-ada, walaupun gue yakin bahwa itu sebenernya dicantumkan bukan untuk memuji gue melainkan suatu rayuan gombal untuk memaksa gue melakukan carwash)

gadis itu mesem dengan sukses. Sialan. Hari minggu begini malah diingetin sama kerjaan.

Mencari penghiburan, gadis itupun menghubungi seorang temannya yang sedang merayakan acara tujuh belasan di kosannya di Depok. Seperti inilah pembicaraan lewat sms tersebut:

Sitihana: “Ayy, besok ngampus gak? Sialan nih, gue terancam seminggu di kampus lagi nih! disuruh carwash!”
Ayy: “kul men. Kan basah-basahan, jadinya kul.”

Oh, sungguh betapa baiknya teman si gadis itu. bukannya memberi penghiburan malahan mengirimkan sms alay.

Sitihana: “Kul abis” (malah dilanjutin alay-nya) “siap-siap aja the bikini babe akan mencuci mobil anda”
Ayy: “Uuh, parah. Bikini beb-nya elo, terus bikini boys-nya Ka Dion, Tegenk sama Ka Rangga. Asik abis.”

HANCUR SUDAH IMAJINASI GUE.

Awalnya, si gadis jelita, Sitihana, memang memiliki suatu imajinasi liar tentang suatu episode hidup dimana dia akan mencuci mobil dengan seksinya memakai bikini dan berbasah-basah bersabun-sabun layaknya dalam suatu acara bubble party, atau minimal kayak film Bring It On dimana Kirsten Dunst dan tim cheerleadernya yang bohay-bohay itu melakukan carwash juga. Ya iya dong kan ya, lagian toh mukanya Kirsten Dunst sama Sitihana kan cuma beda dikiit kan, tipis gitu ya kan? YA KAAAN?

Tapi apa mau dikata, dengan satu sms saja, teman si gadis jelita itu, Ayy alias Astardut, dengan sukses membuat adegan seksi basah wild wild wet itu menjadi sebuah adegan film horor dimana isinya adalah cowok-cowok bermuka garang, masteng dan preman, berjakun, berbadan besar dan berbulu, berubah jadi bencong berbikini dan mencuci mobil sambil bergaya-gaya erotis yang dapat menyebabkan gangguan kehamilan dan janin. Astagfirullah.

BAGUS, AYY. SELAMAT, MEMANG ANDA LAYAK DAPAT BINTANG!

Belum sempat Sitihana bangkit dari keterpurukannya menyadari betapa mudah imajinasi indahnya dirusak oleh Astardut, ternyata takdir berkata lain. karena bukannya menyudahi saja pembicaraan yang mampu membuat taraf kebodohan meningkat drastis itu, yang ada malah Sitihana makin menaruh bensin pada api, alias manas-manasin.

Sitihana: “Ihh… parah banget ayy. Gue jadi ngebayangin, ditambah Opi sama Afi juga. Hahahaha paraaahh. Geli abis”

Oke, tolong banget, plis, jangan dibayangin. Merusak selera makan. Sumpah.

*
Singkat cerita, keesokan harinya dan untuk beberapa hari kedepan, Sitihana pun mejalani hari-harinya menjadi Gadis Pencuci Mobil. Tentunya, kenyataan tidak pernah seindah apa yang pernah dia imajinasikan karena tidak ada adegan seksi basah-basahan, yang ada malahan panas-panasan di depan Kanlam, ngelapin mobil yang baru dicuci sambil bersungut-sungut kesel.

Belom lagi ada komentar-komentar menekan sanubari seperti yang diucapkan oleh orang-orang yang menyuruh Sitihana melakukan hal-hal yang mustahil seperti:
1. mengelap bagian atap mobil (LO PIKIR GUE NYAMPE??)
2. makan beling (LO PIKIR GUE KUDA LUMPING??)

Tapi tidak ada cobaan yang tidak ada hikmahnya. Disela-sela pencucian mobil yang kesekian untuk hari itu, sambil mengelap peluh yang bercucuran menandakan betapa pekerja kerasnya si gadis jelita tersebut dan betapa tinggi dedikasinya menjadi kuli cuci mobil, Sitihana berkata bijak:

“Sumpah, gue mengerti banget sekarang kenapa si Abang nggak suka banget kalo disuruh nyuci mobil. Abis ini gue bakalan sungkeman sama adek gue itu dan bilang: Bang, sungguh akhirnya aku mengerti penderitaanmu selama ini.”

Parah. Oh mama oh papa abis.

*
Kamis sore menjelang malam. Akhirnya hari itu adalah hari terakhir jadwal Sitihana menjadi budak acara cuci-mencuci mobil alias carwash dalam rangka mencari dana untuk sebuah acara kampus paling aduhay, PIASTRO. Sitihana merasa lega. Selega lapangan bola. AHH, berakhir sudah penderitaan ini. Oke, cukup berlebihan karena sebenernya dari sesi-sesi acara cuci-mencuci mobil ini, kebanyakan Sitihana memang hanya eat blind salary (seperti kata Bila) alias magabut. Sori ya men, artis gak biasa kerja kuli. Tapi seenggaknya Sitihana merasa lega karena akhirnya teman-temannya yang lain tidak harus mencuci mobil lagi (tuh kan, Sitihana udah cantik, baik pula, lengkap dengan rasa empati tinggi terhadap teman sejawat sesama kuli cuci).

Setelah puas nongkrong di Kanlam sehabis kegiatan mencuci mobil selesai, Sitihana pun pulang. Seperti biasa, Sitihana dan Ayahanda-nya berjanjian bertemu di toko buku tempat biasa. Pas si gadis jelita itu sampai, ayahanda belum sampai. Akhirnya ia pun memutuskan untuk menunggu saja di dalam toko buku sambil liat-liat.

Toko buku itu biasanya sepi. Jadi walaupun Sitihana sedang dalam penampilan yang tidak oke dengan celana pendek, kaos jelek, sendal jepit dekil plus aroma-aroma khas pekerja keras pencuci mobil (alias bau matahari kebanyakan kejemur dan juga sedikit aroma sabun mobil), Sitihana pantang menyerah dan tetap percaya diri.

Sitihana lalu masuk toko buku dengan gaya sok asik.

Ia pun naik ke lantai satu, masih sepi. Santai. Lantai dua, sama aja sepinya. Masih tetep santai. Lantai tiga juga begitu. Sitihana bisa bernapas lega. Gak masalah gue kayak gembel gini, toh gak ada yang bakalan liat, pikirnya.

Ia pun sampai di lantai empat. Dan ternyata, lantai empat penuh dengan beberapa lelaki bergaya oke anak muda masa kini dan berbau harum semerbak. BAGUSSS.

Sitihana pun bertanya pada dunia, kenapa banget sih pas giliran dia lagi SUPER NGGAK OKE dan bau keringet seperti ini toko buku ini HARUS BANGET kedatangan cowok-cowok oke? Kenapa? Kenapa why nggak bisa cannot? KENAPA????

Ckckck. Sitihana pun sampai pada kesimpulan bahwa memang ternyata satu dunia bersekongkol untuk membuat dirinya terus-terusan jomblo. Ooohhh. Berlebihan.

*
Untungnya tidak lama kemudian, jam tujuh kurang, ayahanda sampai. Sitihana akhirnya terbebas dari kungkungan pandangan cowok-cowok oke itu yang memandangnya dengan tatapan: “IH CANTIK-CANTIK GEMBEL” (masih tetep kekeuh muji diri sendiri). Sitihana pun pulang bersama Ayahanda naik Kijang.

Lalu ia pun hidup bahagia dan cantik jelita untuk selamanya (aminnn).

SEKIAN.
Mudah-mudahan bermanfaat.

Leave a comment

Filed under kalau lagi susah

PERJUANGAN MENGISI IRS (part 2)

Senin pagi. Gue bangun jam 10 pagi dengan tekad bulat bahwa gue akan kembali meneruskan perjuangan mengisi IRS yang kemarin sempat tertunda karena ada “kendala teknis” menurut pengumuman di SIAK ENJOY. Beres ritual pagi hari gue, jam dinding di rumah menunjukkan pukul 12. Gue pun berleha-leha sebentar sebelum mengumpulkan niatan untuk mandi. maaf aja ya kalo lagi liburan di rumah, ritme hidup gue emang kayak begitu, bangun siang, sarapan jam 12, mandi jam 1. ya udah sih ya, terima aja gue apa adanya. Emang dasarnya gue adalah pemalas tingkat akut. Tapi lebih baik mandi daripada tidak sama sekali BUKAAAANN??? (ngotot) Oke. Kembali ke cerita.

Selesai prosesi mandi, gue pun menyiapkan diri untuk melanjutkan perjuangan. Gue pun berdiri di depan kaca di kamar, mengecek persiapan perang.

Nonton infotainmen? Beres.
Makan indomi? Beres.
Minum kopi? Beres.
Baca koran? Beres.
Mandi dan keramas? Beres.
Pake deodoran? Beres.
Pasang susuk? Beres.
Flashdisc? Beres.
Duit? Beres.
Kesiapan jasmani rohani dan spiritual? Beres.

Semua oke. Gue siap. Gue bahkan sengaja nggak ngerokok pagi itu supaya gue dalam kondisi prima dan tidak ngos-ngosan pas jalan kaki (BOONG DENG, emang lagi gak punya rokok ajaaa, sok gaya). Gue pun keluar kamar dengan semangat membara. Tujuan: warnet deket kompleks rumah. IRS HERE I COME!

Di bawah, ternyata si Abang sudah pulang sekolah dan sedang siap-siap mau futsal. Mata gue berbinar. KESEMPATAN! Gue pun minta diboncengin naik motor sampe deket warnet karena gue males jalan kaki. Abang ternyata sedang dalam mood oke, dia pun menyanggupi. Gue pun diantar naik motor oleh si Abang yang suka bergaya pembalap membahayakan jiwa.

Sesampainya di warnet, masih jam setengah tiga. Santai. Masih banyak waktu. Gue pun browsing dulu, main facebook dan ternyata SEMUA ORANG LAGI ONLINE. Gue langsung merasa tidak sendirian, ternyata banyak sekali pejuang-pejuang IRS diluar sana. Gue terharu.

Jam tiga kurang dikit, mulai agak deg-degan. Takut terjadi apa-apa. Ditengah kegalauan hati gue, Bila menelpon. Gue pun terlibat pembicaraan hangat mengenai SIAK ENJOY dan kamipun bertukar cerita mengenai degdegan satu sama lain menunggu pendaftaran IRS dibuka. Jam tiga pas, gue dengan sigap log in sambil harap-harap cemas. Log in berjalan mulus, semulus kaki gue. gue mulai tenang, jam menunjukkan pukul 15.00 gue udah siap-siap dan ternyata…

MASIH BELOM BISA MENDAFTAR!

SAPI! Gue kebat-kebit. What happen men? Whats wrong? What the f-u-c-k?? Dunia gue mendadak goyah dan tidak stabil (berlebihan). Henpon gue tiba-tiba bergetar. Sms dari Ayy: “Smit kok belom bisa ngisi IRS??” gue semakin tertekan. Henpon gue bergetar lagi. Bila telpon lagi.

“Smit kok belom bisa???”

ADUDUH. SUMPAH GATAU BANGET. mampus. Tapi gue berusaha tenang. Gue pun berkata dengan bijaknya:

“Jam 3 lebih satu menit kali baru bisa, Bil.”

Gue menarik nafas, menenangkan diri, walaupun keringetan gue mulai tumpah secara tidak senonoh. Tapi perjuangan gue belum selesai ternyata, belum sempat gue memulihkan diri dari kekagetan gue bahwa jam 15.00 ternyata belom bisa ngisi IRS, jam 15.01, mendadak KOMPUTER SATU WARNET NGE-HANG AJA DOOONGGG.

MMA. Mau mati aja.

Gue panik. Mbak-mbak dan mas-mas warnet jadi ikutan panik sama gue. terus kepanikan gue menyebar, satu warnet berempati sama gue dan IKUTAN PANIK. Sumpah gak penting abis. Tapi gue cukup terharu, masih banyak orang yang peduli ternyata di dunia ini. Ditengah kekacauan, Sharah menelpon. Memberitahukan bahwa komputer Saski juga hang. Gue kembali merasa terharu. Ternyata bukan gue sendirian yang mengalami hal ini. Kemudian gue pun menelpon Bila, minta diisiin IRS. Bila menyanggupi. Gue pun mulai kembali tenang. Seenggaknya gue udah ada yang isiin IRS, jadi nanti tinggal gue edit-edit.

Beberapa saat kemudian, keadaan kembali terkendali. Komputernya nyala lagi dan bisa beroperasi dengan biasa-biasa aja. gue kembali login SIAK ENJOY dengan tujuan mengedit mata kuliah, siapa tau ada yang belom dipilih atau gimana.

Setengah jam berikutnya menjadi setengah jam tersibuk yang pernah ada dalam kehidupan per-SIAK ENJOY-an gue. Henpon gue tidak berhenti bergetar (kan di-silent) menerima telpon keluar masuk dari rekan sejawat sesama pejuang pengisi IRS yang sama-sama panik nanyain “lo kelas apa? Lo kelas apa?” atau “coba bacain lagi kelas lo apa aja!” atau “Sumpah gue gak dapet kelas itu! waiting list!” atau “Hah?? Kok SKS kita gak samaa??” atau “Hey bayar utang lo!!” dan sebagainya. Bahkan lebih heboh lagi karena semua menelpon dalam waktu bersamaan. Call waiting semua. Gue lagi ngomong sama Bila, Ayy telpon. Gue lagi ngomong sama Ayy, Saski telpon. Gue lagi ngomong sama Sharah, Tegank telpon. Terus ganti-gantian. Sibuk gue sibuk. Sumpah kegiatan per-IRS-an ini menekan hidup LUARRRBIASA. Maaf ya teman kalo ada telponnya yang gak keangkat. Sumpah itu taraf hectic tingkat tinggi.

Belom lagi pada saat gue dan Bila menyadari bahwa semua mata kuliah pilihan yang kita daftar, masuk WAITING LIST. Dari kapasitas 40 orang, gue terdaftar urutan ke 87. OH MEN. Belom lagi yang jadwalnya bentrok. Aduduh banget sumpah parah.

Jam 4 sore, gue pun berniat menyudahi saja perjuangan gue mengisi IRS. Beberapa mata kuliah masih waiting list, tapi yasudahlah, gue pasrahkan saja pada yang Maha Kuasa dan pada dosennya kalo mau masukin gue, bagus, nggak juga, ya udah. Gue pun kembali menjadi si Sitihana, santri yang sabar dan ikhlas.

Dengan membaca Bismillah, gue pun logout dari SIAK ENJOY yang asoy geboy itu.

Setelah logout, gue sempet termenung sebentar. Mikir. Mau ngisi IRS aja kok ya repot amat ya? Heboh gitu. mungkin salah sistemnya juga sih pake azas siapa cepat dia dapat siapa lambat dia diembat, makanya anak-anak jadi gelap mata dan buas membabi buta padahal cuma buat ngisi IRS doang lho, bukannya ngantri sembako gratis. Ckckck ambisiusnya.

Tapi yasudahlah, mungkin kulturnya emang harus begitu. Bagus juga begitu, jadi kan belajar bahwa kalo mau sesuatu harus usaha, gak bisa diem-diem aja dan nunggu dikasih. ceileh dah.

Jadi setelah perjuangan gue yang heboh itu, gue pun berniat menghibur diri dengan main facebook sebentar. Ternyata dari sebentar malah gelap mata dan KEBABLASAN. Pas jam setengah enam gue tersadar dan akhirnya memutuskan untuk pulang. Gue pun membayar ke kasir dan bergegas karena kalo udah gelap takut banget jalan pulang sendirian.

Akhir cerita, di perjalanan pulang gue bertemu segerombolan anak-anak SMA lagi nongkrong di trotoar. Lalu tiba-tiba gue mendengar salah satu dari mereka nyeletuk ke salah satu temennya yang berdiri di tengah-tengah trotoar,

“Heh, jangan ngalangin jalan napa lo? ada cewek cantik mau lewat ituh!”

PERTANYAANNYA: Siapakah cewek cantik yang dimaksud?
kirimkan jawaban anda: ketik REG spasi JAWABAN ke 76482226845 (alias SMITACANTIK).
Tarif premium: 1 juta/sms

(YAILAK dibilang cantik sama anak SMA nongkrong pinggir jalan aja idung pake acara kembang kempis bangga segala. NORAK)

jadi begitulah kehidupan gue menjadi pejuang pengisi IRS. Jam setengah enam, gue sampai di rumah dengan sehat sentosa dan hati lega, akhirnya selesai juga perjuangan ini. Alhamdullilah.

Gue makan telor dadar dengan nikmatnya.
Sampai jumpa di petualangan SIAK ENJOY berikutnya!

4 Comments

Filed under kalau lagi susah