Category Archives: kalau lagi senang

pembicaraan siang hari #2

Di gerai J.Co, Margo City:

Afi: Iya jadi ternyata tulang di jari gue tuh kayak double damaged. Dikira cuma geser, ternyata dia patah, terus hancur berkeping-keping.

Gue: Lo ngomongin jari apa hati sih?

Moral of the story: curhat colongan itu bisa berbentuk apa saja hahaha iya gak, fi?

Advertisements

Leave a comment

Filed under kalau lagi senang

pembicaraan sore hari #2

Di dalam kamar orangtua gue di suatu sore yang tidak istimewa:

Gue: bang, nonton apaan kemaren?
Abang: gue nonton G-Force, sama KCB.
Ade: (nimbrung) eh, eh, masa temen gue bilang gini ‘KCB? Apaan tuh? Cebok??’ Hahaha kampungan banget gak sih, jelas-jelas kalo cebok itu CKB!
Gue&Abang: (melongo) cebok itu CBK kaleeeee!!!

Moral of the story: ajari adikmu alfabet sebelum mengajarinya mentertawakan orang lain.

Moral of the story #2: ini adalah efek samping kebanyakan makan indomi karna ditinggal ibu-bapak halal-bihalal tanpa makanan dirumah.

Leave a comment

Filed under kalau lagi senang

semua masalah timing:

Hari ini gue merasakan kembali how God works his plans in a mysterious way.

Pagi gue yang dimulai dengan curhat pada Bila tentang betapa muaknya gue dengan keadaan dan kehidupan gue sekarang. Perasaan ingin keluar dari zona nyaman gue yang semakin gerah. Kegalauan karena suatu sms di pagi hari (stop replying. you really should)..

Lalu mendadak semua membaik dengan ajaibnya.

Wawancara (perdana!) dengan 8 orang maba, percakapan di kanlam bersama Dhea dan Sharah, sampai yang paling membuat gue benar-benar melupakan semua energi negatif dalam diri gue:

Kumpul angkatan dan ichiban sushi dengan Tegar, Catja, Sharah, Patsy, Nia, Ayy dan Fika.

Terimakasih yaaa untuk ketawa sampai mati di Akademos (yell angkatan!) dan Parkiran Margo City :)

Love is all about timing. And today, His timing makes me realize how much I love you guys. I really think that God loves you all the time, it’s just that sometimes He show it in a funny way.

Ps. Terimakasih juga Adit untuk kesediaannya membalas bbm curhat gue yang mendayu-dayu.

*
When you are commited to just take it one day at a time, then you really should.
Because maybe today, that’s the only thing that will help you.

Leave a comment

Filed under kalau lagi senang

pembicaraan malam hari

Dalam suatu conference di Yahoo Messenger:

Participants:
————-
smitaprathita, rafika.ariani, putrirezkya

Messages:
——–

rafika.ariani: mampus aja gue
rafika.ariani: bulu kaki lg lebat
rafika.ariani: bisa ngiket org

smitaprathita: Taiiii bisa ngiket orang!!!


putrirezkya: anak sombong disanyang tuhan
putrirezkya: tugas apaan fiik?

smitaprathita: anak sombong disanyang tuhan?
smitaprathita: anak sombong diganyang tuhan, iya


rafika.ariani: jomblo itu tdk dosa smit

smitaprathita: Iyaaaaaa
smitaprathita: Emaaanggg
smitaprathita: Kalo jomblo itu dosa, neraka penuh!

*
Yak. Sekian. Selamat malam :)
Thank you fika & jejen, you guys made my night!

Leave a comment

Filed under kalau lagi senang

pembicaraan siang hari

Di kelas Psikometri yang berlangsung 4 jam.

Dosen: jadi skor Susi berada dalam rentang antara true score plus minus… Blablabla
Jejen: Susi siapa sihh???
Gue: sumpah ya Susi itu bukan inti permasalahan kita…

Moral of the story: psikomet lebih bikin tripping daripada extacy.

Leave a comment

Filed under kalau lagi senang

pembicaraan sore hari

Di sebuah angkot Depok-Taman Mini.

Sadi: lo tuh berkualitas, smit!
Gue: Apa? Gue bukan wanita??

Moral of the story: jangan sok-sok ngobrol di angkot yg lagi ngebut dengan jendela terbuka lebar.

But anyway, thank you Sadi! You made my day today! (Again.)

Leave a comment

Filed under kalau lagi senang

turn around, and you’ll see.

Dulu waktu di singapur, ada seorang temen gue yang pernah bilang sama gue:

“…the problem is I don’t like being around people who love me, I like it better when I’m around people that I love, which is why I always end up being hurt…”

Mungkin banyak permasalahan kehidupan gue pada akhirnya berkutat di daerah yang sama. I care too much about people who don’t reciprocate the feeling, instead of on those who do. Gue kurang tau juga apa ini cuma gue doang yang begini tolol atau banyak juga yang sering ngalamin hal yang sama.

*
Kadang dalam suatu hubungan, mau itu dalam keluarga, pertemanan, atau bahkan pacaran, gue merasa selalu ada titik dimana seseorang berhenti untuk peduli atau seenggaknya, berhenti memperlihatkan bahwa ia peduli.

Gue tahu ada banyak alasan kenapa orang berhenti untuk peduli dengan orang lain. Ada yang karena terpisah jarak, jadinya menjauh dengan sendirinya, lalu karena merasa jauh jadi sering lupa dan mulai nggak peduli. Ada yang karena ada konflik, masalah, problem dan lain-lain, jadi memutuskan untuk tidak peduli lagi. Some people grew apart, some people drifted apart, some maybe just stop caring for no particular reason. Pokoknya ya gak perduli, titik.

But do you ever stop caring about people you once loved?

Gue merasa berhenti untuk peduli itu diluar akal sehat gue. Berkurang secara bertahap, mungkin terjadi. Berkurang secara drastis, bisa aja. Tapi bener-bener berhenti? Kok rasanya nggak mungkin ya?

Gue gak pernah bisa terlalu mengerti kenapa orang bener-bener bisa berhenti untuk peduli. Dan karena penasaran, kadang-kadang gue jadi terlalu terfokus sama orang-orang yang gue rasa mendadak berhenti peduli sama gue, padahal gue masih sangat peduli sama mereka. Yah, walaupun akhirnya semuanya jadi kayak sia-sia aja, kayak peduli sama benda mati, karena yang gue peduliin gak ngebales hal itu. Ngeselin banget.

Tapi mungkin kalau mau berpikir positif, rasa peduli itu akan selalu ada, seberapapun kecilnya, cuma kita berhenti aja untuk berusaha ngasih liat bahwa kita peduli. Walaupun buat gue, gak ada bedanya sih berhenti untuk peduli sama berhenti berusaha ngasih liat bahwa kita peduli.

*
Baru-baru ini, gue baru bener-bener menyadari bahwa gue adalah orang yang lebih suka berjuang untuk memenangkan lagi hati orang-orang yang sebetulnya udah nggak peduli sama gue. Dan tanpa gue sadari, gue malah ngelupain orang-orang yang sebetulnya peduli sama gue.

Taking things for granted. Taking those who do love me for granted.

TOLOL DEEEHH.

Dari dulu gue suka protes, kenapa ya kayaknya temen gue banyak tapi gue sering ngerasa kesepian. Kayaknya banyak temen tapi gue merasa nggak ada yang peduli sama gue. Jawabannya? Ya karena gue terlalu fokus sama yang nggak sayang dan nggak peduli sama gue.

Secara nggak langsung, gue malah jadi orang yang gak peduli sama orang yang peduli sama gue. Dulu juga, temen gue, Hanis pernah bilang sama gue, pas gue protes tentang merasa nggak punya temen:

“friends are always there. Sometimes, it is just the matter of whether you wanna reach out for them, or not.”

Sekarang, gue menyadari, banyak banget sebenernya yang peduli sama gue, cuma gue nggak pernah berusaha untuk notice aja. Bahkan si Abang yang cuek luar biasa itu, ternyata care kok sama gue kalo gue lagi bete, lagi sedih, lagi gundah gulana. Atau nyokap gue, atau bokap gue, atau Suster, atau ya pastinya si Ade yang senantiasa menghibur kehidupan gue dikala bosan.

Temen-temen gue juga. Akhir-akhir ini apalagi, gue merasa akhirnya gue menemukan sebuah zona nyaman dimana gue akan selalu bisa balik lagi. Orang-orang yang udah bersama gue dari masa-masa singapur, juga orang-orang yang bertahan hidup sama gue dari mulai masuk psiko sampe sekarang.

*
Akhirnya ya gue menyadari, gue aja yang salah menempatkan prioritas gue.

Because when you think nobody cares, maybe you’re just focusing on the wrong people.

Buat orang rumah dan teman-teman (khususnya Fika, Jejen, Bila, Caca, Sadi, Adit, Tachi, Mangap, Resa, dan semua-muanya): thank you for making my life incredibly bearable for the past few weeks/months/years. Cheerios! Atau mengutip kata-kata mbah Surip: LOVE YOU FULL!

1 Comment

Filed under kalau lagi senang