we all will move on one day,

and so do i.

i will no longer blog here, i have moved to another blog.

cheers!

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

pembicaraan sore hari #3

Di depan jendela Gedung H lantai 1:

Gue: iya ja, males banget ke citos sendirian! Apalagi mau ujan gini, makanya gue harus cari gebetan!
Ija: ha?
Gue: eh, maksud gue tebengaaaann!

Gue: Ja.. Mau ujan! Mana gue gak bawa payung lagi!
Ija: apa? Bawa pacar?
Gue: INI APA SIH DARITADI?
Ija: emang kalo udah mau malam minggu, hawa-hawanya suka begitu, smit!

Moral of the story: your unconsciousness is WAY stronger than you could imagined. And it will make sure it’ll find its way out! Ah!

1 Comment

Filed under Uncategorized

pembicaraan siang hari #2

Di gerai J.Co, Margo City:

Afi: Iya jadi ternyata tulang di jari gue tuh kayak double damaged. Dikira cuma geser, ternyata dia patah, terus hancur berkeping-keping.

Gue: Lo ngomongin jari apa hati sih?

Moral of the story: curhat colongan itu bisa berbentuk apa saja hahaha iya gak, fi?

Leave a comment

Filed under kalau lagi senang

pembicaraan sore hari #2

Di dalam kamar orangtua gue di suatu sore yang tidak istimewa:

Gue: bang, nonton apaan kemaren?
Abang: gue nonton G-Force, sama KCB.
Ade: (nimbrung) eh, eh, masa temen gue bilang gini ‘KCB? Apaan tuh? Cebok??’ Hahaha kampungan banget gak sih, jelas-jelas kalo cebok itu CKB!
Gue&Abang: (melongo) cebok itu CBK kaleeeee!!!

Moral of the story: ajari adikmu alfabet sebelum mengajarinya mentertawakan orang lain.

Moral of the story #2: ini adalah efek samping kebanyakan makan indomi karna ditinggal ibu-bapak halal-bihalal tanpa makanan dirumah.

Leave a comment

Filed under kalau lagi senang

saat akhirnya bosan dengan kejenuhan.

Akhir-akhir ini kepala gue rasanya muteeeerr muter kemana-mana. Mungkin inti permasalahannya adalah titik jenuh gue mulai tercapai. Udah hampir 3 tahun gue menjalani hidup yang bisa dibilang stagnan. Sama seperti kecapekan gue mengeluh bahwa gue lelah, sekarang gue bosan mengeluh bahwa gue jenuh. Tapi apa daya? Emang gue JENUH.

Parah parah parah. Jenuh jenuh jenuh.

Kira-kira setahun ini gue mulai merasa geraaah dengan kehidupan gue yang nggak kemana-mana ini. Masalah dengan comfort zone selalu: bikin gak pengen keluar. Gue inget apa kata Pane waktu gue ngobrol-ngobrol di malam dapur itu:

“Susahnya dengan comfort zone itu adalah elo kayak kodok yang dimasukin ke air hangat yang kemudian dipanasin pelan-pelan. Kalo langsung panas, dia pasti langsung loncat keluar. Tapi kalo dipanasin pelan-pelan, kodok itu akan merasa nyaman, menyesuaikan suhu tubuhnya dengan panasnya air, dan tanpa sadar tau-tau dia udah mati kerebus.”

Aduh, jangan-jangan gue lagi kerebus hidup-hidup!

Gue gak tau juga kenapa akhir-akhir ini perumpamaan yang gue pakai hampir berputar di kisaran ke-kodok/katak-an (I know, kodok dan katak are two different types of the same gross animals). Baru tadi pagi gue beneran merasa kayak gue akhirnya kembali lagi jadi katak dalam tempurung.

Sepertinya gue terlalu banyak berkutat dalam lingkup kecil kehidupan gue sampai-sampai I am missing out on what happen outside my pathetic little world.

Hampir setiap hari gue kebangun dengan pikiran yang sama: I need to get out. I need to get out! Tapi lagi-lagi bukannya gue berusaha membuat perubahan yang signifikan, gue malah memaksa diri untuk sibuk dalam hal-hal yang superficial, drama-drama kehidupan yang mungkin gue karang-karang sendiri, kegiatan-kegiatan yang terasa mendesak padahal tidak penting. Lalu malam harinya gue tertidur dengan false sense of complacency yang bilang: I’ve done something today.

But have I?

Pertanyaan itu keluar karena nggak mungkin gue sudah melakukan sesuatu yang (benar-benar) berarti kalau besoknya gue kembali terbangun dengan perasaan yang sama: bosan dan harus keluar sesegera mungkin dari kehidupan yang begini-begini aja.

Kenapa juga isi blog gue begini-begini aja, tiap kali mengeluhkan hal yang sama, ya lagi-lagi karna gue belum mendapatkan pemecahannya.

Dulu kayaknya ada orang bilang sama gue: when you detach yourself from your problems, put yourself outside the circle and look at it more objectively, just then maybe you’ll find enlightment dan finally able to solve them.

Selama ini kayaknya gue hanya mencari distraksi supaya gue tidak terlalu ingat atau sadar sama kejenuhan gue. Tapi distraksi tidak selalu mempan menghalau perasaan jenuh, nggak selalu bisa menyelesaikan masalah.

Kayaknya emang ini udah kronis banget kali ya. 3 years of being stuck. Gila. Gilaaaa! Iyah, mungkin bentar lagi bisa beneran gila kali kalo gue memaksakan untuk bertahan. Memang mungkin saatnya gue melihat ke gambaran yang lebih besarnya, ketimbang memfokuskan diri ke printilan yang makan waktu dan energi tapi gak menghasilkan apa-apa.

Mungkin sederhananya adalah gue butuh pelarian, liburan, suasana baru atau sejenisnya. Karna gimanapun gue masih ‘dikontrak’ untuk menyelesaikan dua tahun (atau setahun setengah? AMIN!!) tanggung jawab gue di perkuliahan. Emang titik jenuh gue udah tercapai, tapi gak mungkin gue lari dari tanggung jawab yang satu ini. Jadi kemungkinannya gue emang cuma perlu untuk keluar sejenak.

Tadi malem, Adit menghujani gue dengan cerita-cerita mudiknya dia yang terasa aduhay parah di Solo. Ya cerita tentang angkringan, tentang ngobrol sampe pagi, tentang suasana yang asik. Dan gue rasanya mau meledak. Terhantui dengan kejenuhan gue yang makin menjadi.

It’s been awhile since my last fun holiday. Terakhir Jogja dan Bali trip diawal tahun. Lalu hidup gue kembali berkutat dengan pola yang sama yang gue jalani selama hampir 3 tahun ini. Betul-betul bikin sinting. Dan hari ini, keresahan, kejenuhan, kegerahan, dan semua-semuanya makin membuncah.

I no longer need to go out. I really need to get out of here.

Gue tahu banyak keterbatasan yang gue miliki untuk merealisasikan keinginan (atau sudah jadi kebutuhan?) gue ini. Mungkin ini saatnya gue beneran bikin perubahan di hidup gue: dengan mulai bikin rencana kehidupan!

Leave a comment

Filed under kalau lagi susah

a love letter to no one.

If you asked me, what I really want right now, I would say I don’t know.

But one voice in my head is screaming a message that has been echoing constantly since that night: I want you.

I want to grow old with you. I want to wake up next to you, nevermind that we have to go live our own lives during the day, as long as I know we’ll meet again at night. I want to laugh with you. I want to have ridiculous fight with you, only to make up later on.

I want you.

I don’t want only the good times, I want to embrace the bad and the ugly, too. I want to be frustrated by your antics, I want to be there through your mood swings and frowning faces, wanting to leave you but knowing deep down I would want to come back in the end. Again and again.

I want you.

I want to be the one who stroke your hair, while you rest your head in my belly. I want to wipe your tears with my fingers on your bad times. I want to be there when you don’t feel like talking to anyone, even me, just to let you know that I would always listen when you’re ready to open up yourself.

I want you.

I want to tell you that you can do the stuff you’re doing. I want to ask you over and over again about how your day went, although most probably you won’t tell me anyway. I want to remind you to stay healthy and quit smoking just because I know you’ll be frustrated when you fall sick. I want to do things for you, because of you, and put myself in lower priorities.

I want you.

I want my life to be about you. I want to be more mature for you. I want to promise you that I will take care of you, and not always the other way around. I want to write you (not) another love letter, full with xoxo-s and my own stupid drawings.

I want to do a lot of things for you. I want to make promises and keep them all for you. I want to, I really do.

But I know I can’t. And that’s why I’d say I don’t really know what I want now.

*
For you: the one that I belong with, the one I haven’t met.

So until we meet, I can promise you one thing: I will love you. If you love me back.

11 Comments

Filed under kalau lagi curhat

#pengakuan

Gara-gara topik #pengakuan rame banget di twitter, daritadi otak gue muter banget tentang banyak hal yang menjadi ‘pengakuan’ gue. Mulai dari hal-hal nggak penting kayak:
– waktu kecil gue kepengen banget jadi polwan;
– gue pernah ketagihan korek kuping sampe dimarahin sama dokter THT karna katanya kuping gue terlalu bersih;
– gue benci banget sama nyamuk, ngalahin kebencian gue sama binatang lain;
– gue kesel banget kalo gue sampe nangis di depan umum karena gue akan merasa sangat lemah;
– sampe pengakuan bahwa gue sukaaaa banget sama lagu SKJ-nya ST 12.

Semenjak masuk psikologi, gue banyak banget dicekokin sama teori-teori macem-macem, yang secara nggak langsung bikin gue melek tentang diri gue sendiri. Afterall, our own clients would always be our own selves, kan?

Beberapa hari kemarin gue sempet dimarahin sama nyokap karna gue cerita tentang beberapa sisi dan sifat gue yang gue dan dia anggap jelek. Kata nyokap: “udah tau jelek kok dipiara?!” Sounds familiar? Pastinya, karna banyak banget postingan gue membahas masalah ini. Oh well, bad habits die hard, mom!

Menyadari kejelekan-kejelekan gue, akhirnya gue mulai membuat suatu perjanjian (again!) dengan diri gue: pada saat gue sudah mulai menyadari, ya mbok ya mulai gituu untuk usaha ngerubah. Dan cuma niat nggak bisa dianggap usaha! Anyway, consciousness is the start of everything, right?

Beberapa hal yang akhirnya gue sadari antara lain:

#1
Orang-orang yang pernah ngajak gue pergi pasti gerah banget sama kata-kata ‘terserah’ gue. Gue adalah orang yang sangat gak punya pendirian kadang-kadang, terutama kalau hal itu menyangkut hajat hidup orang banyak: misalnya nentuin tempat makan atau mau nonton apa. Gue adalah orang yang ‘ngikut aja’, which I know can be really annoying. Berarti kembali lagi permasalahan gue adalah bahwa gue susah banget keluar dari sifat people-pleaser. Padahal kan ya, you can’t please everyone, moreover, you DON’T have to.

#2
Beranjak dari permasalahan ke-terserah-an gue, akhirnya gue sadar, gue bukan orang yang tahu banget apa mau gue. lagi-lagi, gue cenderung ngikut aja. Kadang ini emang bikin gue kesandung banget, karena gue jadi kayak orang bingung selalu. Sebenernya sih gue bukannya bener-bener gak tau segalanya, gue tau apa yang gue GAK MAU. Tapi gue nggak selalu tau apa yang gue mau. Bingung? Gue juga. Misalnya gue diajak pergi makan, gue tau gue GAK MAU makan apa, tapi belum tentu gue tau gue mau makan apa. Gue adalah orang yang menunggu, menunggu pilihan itu datang ke gue: mau makan ini gak, Smit? Makan itu? Gue bukanlah orang yang meraih kesempatan, gue orang yang minta ditawarkan. Yang jeleknya lagi, ini kadang bikin gue jadi pasrahan luarbiasa. Bloon emang.

#3
Gue adalah orang yang doyan banget segala yang instan. Gue bukan orang yang terlalu suka untuk struggle. Gue mau segalanya cepat menjadi nyaman buat gue. Gak mau susah lah, intinya. Padahal kan semuanya butuh proses, butuh usaha.

#4
Gue tau banget gue adalah orang yang pemalas luarbiasa (yes, I think everybody knows that too dan ini emang kejelekan gue yang paling astaga dot com) dan jeleknya, pada saat gue sudah nyaman, gue jadi malas untuk kemana-mana. Gue adalah orang yang bertahan di comfort zone, dan itu bikin gue susah berkembang. Gue bukan seorang risk-taker, gue pasif. Saat gue nyaman, seringnya saat itulah gue stuck.

#5
Sejujurnya, kadang alasan gue membatasi diri gue dengan kemalasan adalah karna sebetulnya gue anak yang minderan dan takut salah. I don’t deal very well with failures. Gue takut banget gak bisa memenuhi ekspektasi orang lain dan diri gue sendiri. Dan akhirnya kadang gue mengakomodasi itu dengan menurunkan standar gue, supaya gue gak merasa gagal banget saat hasil gue gak optimal.

#6
Sebenernya gue sedih sama diri sendiri karna sampe sekarang gue gak bisa berhenti merokok, padahal gue tau banyak pihak yang mau gue berhenti. Alasannya kenapa? Karena ternyataa gue nggak punya motivasi intrinsik yang besar untuk berubah. Gue masih perlu banyak suntikan dorongan eksternal untuk mau berubah. Jelek? Bangettt!

Inti dari banyak hal ini sebetulnya satu: gue sendiri yang merugikan diri gue sendiri dengan menyerah pada kejelekan-kejelekan gue yang sebenernya bikin gue gak berkembang. Bodooooh. Gue yakin sampe sekarang gue belum menggali potensi gue sendiri, tapi ya itu tadi: gue malas, minder, mau nyaman dan lain-lain.

What a stupid reason to jeopardize one own’s future!

Yah, gue rasa sudah cukup pengakuan yang gue buat malam ini. Gue ingin lebih baik, sumpah gue mau banget. Dan semua hal dimulai dengan satu langkah: berhenti hanya berwacana!

confession can be the start, but it really means nothing if we stop there. Doakan saya ya!

4 Comments

Filed under kalau lagi mikir