Akhir-akhir ini kepala gue rasanya muteeeerr muter kemana-mana. Mungkin inti permasalahannya adalah titik jenuh gue mulai tercapai. Udah hampir 3 tahun gue menjalani hidup yang bisa dibilang stagnan. Sama seperti kecapekan gue mengeluh bahwa gue lelah, sekarang gue bosan mengeluh bahwa gue jenuh. Tapi apa daya? Emang gue JENUH.
Parah parah parah. Jenuh jenuh jenuh.
Kira-kira setahun ini gue mulai merasa geraaah dengan kehidupan gue yang nggak kemana-mana ini. Masalah dengan comfort zone selalu: bikin gak pengen keluar. Gue inget apa kata Pane waktu gue ngobrol-ngobrol di malam dapur itu:
“Susahnya dengan comfort zone itu adalah elo kayak kodok yang dimasukin ke air hangat yang kemudian dipanasin pelan-pelan. Kalo langsung panas, dia pasti langsung loncat keluar. Tapi kalo dipanasin pelan-pelan, kodok itu akan merasa nyaman, menyesuaikan suhu tubuhnya dengan panasnya air, dan tanpa sadar tau-tau dia udah mati kerebus.”
Aduh, jangan-jangan gue lagi kerebus hidup-hidup!
Gue gak tau juga kenapa akhir-akhir ini perumpamaan yang gue pakai hampir berputar di kisaran ke-kodok/katak-an (I know, kodok dan katak are two different types of the same gross animals). Baru tadi pagi gue beneran merasa kayak gue akhirnya kembali lagi jadi katak dalam tempurung.
Sepertinya gue terlalu banyak berkutat dalam lingkup kecil kehidupan gue sampai-sampai I am missing out on what happen outside my pathetic little world.
Hampir setiap hari gue kebangun dengan pikiran yang sama: I need to get out. I need to get out! Tapi lagi-lagi bukannya gue berusaha membuat perubahan yang signifikan, gue malah memaksa diri untuk sibuk dalam hal-hal yang superficial, drama-drama kehidupan yang mungkin gue karang-karang sendiri, kegiatan-kegiatan yang terasa mendesak padahal tidak penting. Lalu malam harinya gue tertidur dengan false sense of complacency yang bilang: I’ve done something today.
But have I?
Pertanyaan itu keluar karena nggak mungkin gue sudah melakukan sesuatu yang (benar-benar) berarti kalau besoknya gue kembali terbangun dengan perasaan yang sama: bosan dan harus keluar sesegera mungkin dari kehidupan yang begini-begini aja.
Kenapa juga isi blog gue begini-begini aja, tiap kali mengeluhkan hal yang sama, ya lagi-lagi karna gue belum mendapatkan pemecahannya.
Dulu kayaknya ada orang bilang sama gue: when you detach yourself from your problems, put yourself outside the circle and look at it more objectively, just then maybe you’ll find enlightment dan finally able to solve them.
Selama ini kayaknya gue hanya mencari distraksi supaya gue tidak terlalu ingat atau sadar sama kejenuhan gue. Tapi distraksi tidak selalu mempan menghalau perasaan jenuh, nggak selalu bisa menyelesaikan masalah.
Kayaknya emang ini udah kronis banget kali ya. 3 years of being stuck. Gila. Gilaaaa! Iyah, mungkin bentar lagi bisa beneran gila kali kalo gue memaksakan untuk bertahan. Memang mungkin saatnya gue melihat ke gambaran yang lebih besarnya, ketimbang memfokuskan diri ke printilan yang makan waktu dan energi tapi gak menghasilkan apa-apa.
Mungkin sederhananya adalah gue butuh pelarian, liburan, suasana baru atau sejenisnya. Karna gimanapun gue masih ‘dikontrak’ untuk menyelesaikan dua tahun (atau setahun setengah? AMIN!!) tanggung jawab gue di perkuliahan. Emang titik jenuh gue udah tercapai, tapi gak mungkin gue lari dari tanggung jawab yang satu ini. Jadi kemungkinannya gue emang cuma perlu untuk keluar sejenak.
Tadi malem, Adit menghujani gue dengan cerita-cerita mudiknya dia yang terasa aduhay parah di Solo. Ya cerita tentang angkringan, tentang ngobrol sampe pagi, tentang suasana yang asik. Dan gue rasanya mau meledak. Terhantui dengan kejenuhan gue yang makin menjadi.
It’s been awhile since my last fun holiday. Terakhir Jogja dan Bali trip diawal tahun. Lalu hidup gue kembali berkutat dengan pola yang sama yang gue jalani selama hampir 3 tahun ini. Betul-betul bikin sinting. Dan hari ini, keresahan, kejenuhan, kegerahan, dan semua-semuanya makin membuncah.
I no longer need to go out. I really need to get out of here.
Gue tahu banyak keterbatasan yang gue miliki untuk merealisasikan keinginan (atau sudah jadi kebutuhan?) gue ini. Mungkin ini saatnya gue beneran bikin perubahan di hidup gue: dengan mulai bikin rencana kehidupan!