Akhirnya malam ini gue kembali ditemani oleh sekotak rokok, game laptop dan lagu-lagu depresi. Just like the old days.
Gue tahu pada akhirnya ruang ini kembali jadi tempat pelarian gue saat dunia gue serasa jungkir balik. Saat dunia gue rasanya kembali kayak lagi naik Tornado, keputer semua, kepala di kaki, kaki di pantat.
“Mencintaimu adalah suatu keindahan yang tak pernah terwujud…”
Malam ini gue menemukan analogi hidup gue akhir-akhir ini dalam lagu-lagu The Banery. Lirik patah hati, melodi riang hati.
Gue akui dua bulan terakhir, I wasn’t fine. Well I am not even up until now. But I tried to laugh about it, no matter how fake. Lelah, selalu gue katakan itu. Gue juga udah capek untuk terus-terusan mengeluh bahwa gue lelah gue lelah.
Yang akhirnya gue sadari dan mau akui adalah gue lelah berada dalam kecemasan bahwa orang akan mengasihani gue. Cukup gue yang mengasihani diri gue sendiri. Gue tidak perlu orang lain untuk itu.
Malam ini, sejujurnya gue takut untuk bangun besok pagi. Bukan masalah kelas psikometri 4 jam, bukan masalah itu. Terserah mau kasih gue berapapun lamanya waktu kuliah, I don’t give a shit. It kinda helps in a way.
Gue takut besok gue kembali harus berpura-pura. Gue takut besok gue harus kembali duduk bengong di kelas, mencoba konsentrasi, padahal nafas gue berat. Tersengal.
Fisik gue cukup kuat, gue tau. Sangat jarang akhirnya gue menyerah pada keadaan dan tepar tewas sakit dirumah. But deep inside, I wish I was physically weaker. Jadi at least apa yang mengganggu selama ini akhirnya menjadi suatu yang riil, konkrit. Saat semua mengawang, justru gue lebih takut. Gue takut akhirnya gue overload dan sakit secara psikis. Haha berlebihan emang. But we have the allowance to be paranoid once in a while, right?
“Kan kutulis semua kisah cinta sebelum semuanya berubah, menjadi suatu hampa belaka…”
Gue gak pengen masuk ke detail cerita ada apa dan kenapa. Yang gue tau, ini sesak. Terlalu sesak sampai gue tidak bisa berfungsi normal.
Masih seperti yang dulu-dulu, gue masih mengulang skenario yang sama. Masih dengan pergumulan gue dengan segala hal kecil yang mengingatkan gue pada jutaan hal. Masih dengan perjuangan gue berdamai dengan kenyataan, dan yang lebih penting, dengan diri gue sendiri.
Kecewa. Hanya itu yang gue rasa. Bahkan gue sendiri tidak bisa mengelaborasikan kecewa pada apa. Ada diskrepansi dalam diri gue. Gue tahu semua akan berakhir seperti ini, trust me, I really do. Tapi apakah itu berarti semuanya lebih ringan? Lebih terduga, iya. Tapi lebih ringan? Beda urusan itu.
Akhirnya tadi sore kembali Sadi yang ada disebelah gue. Mendengarkan, dan gue yakin, dia mengerti. Gue berterimakasih banyak sama dia, untuk tidak mengasihani gue, untuk mendengarkan tanpa judgement atau prejudis, untuk membiarkan gue mendengarkan kalimat-kalimat singkatnya yang menenangkan.
Gue sudah tidak lagi butuh penguatan yang sudah sering gue dengar, berkali-kali. Gue sudah tidak butuh kata-kata standar bersalut gula. Empty calories. Gue hanya perlu untuk dimengerti. Gue sudah tidak butuh kata-kata, titik.
Gue perlu untuk lupa. Dan lupa butuh waktu. Yes, time doesn’t heal, it just simply makes you forget what hurts. Or how it hurts so bad.
Gue tidak benci, sumpah demi Allah, gue tidak benci. Gue tidak mau hidup dalam kebencian. Tapi gue sedih, iya. Gue sakit, iya.
Gue tahu banyak yang sudah bisa gue terima, maafkan, bahkan gue terima. Bahkan gue sudah bisa bilang pada diri gue kata-kata bangsat itu: ini yang terbaik. Tapi bohong kalau gue bilang gue sudah kembali menjadi baik-baik saja.
Maaf ya, gue kembali ke titik nol. Gue juga kecewa sama diri gue sendiri. Gue harusnya bisa menerima bahwa this isn’t mine to keep. This isn’t my time to be happy. Gue harusnya bisa menerima bahwa gue masih dalam antrian, gue masih memegang nomor yang belum tertulis di layar. This isn’t my turn.
Berbesar hati itu sulit. Bosan kan mendengar cerita yang itu-itu saja? Gue juga. If life is recorded on a DVD, it would be easier, because we can skip chapters dan paused on the moments we loved the most.
But then again, we aren’t meant to live it easy, are we?
Maafkan gue. Maafkan untuk setiap helaan nafas yang berat, untuk setiap momen gue tersenyum palsu, untuk tatapan yang gue hindari.
Gue belum bisa.
*
How I wish my brain works like a computer. Press F1 and you’ll get a step by step instruction of how to deal with your problems.
I don’t need encouragement, I need someone to show me the way.